PRENJAK
Cerpen Narwan Sastra Kelana
MATAHARI telah memancarkan cahayanya di
atas Gunung Merapi. Dwijo
masih asyik dengan tiga burung prenjaknya. Prenjak-prenjak itu baru didapatnya
dari seorang petani kemarin siang di pasar desa dengan harga yang dianggapnya
murah. Dia berharap akan mendapat keuntungan besar bila prenjak-prenjak itu
dijual lagi ke Sasana Kukila, pasar burung di lembah Tidar.
Dwijo kini
memang menekuni pekerjaan sambilan sebagai blantik
burung ocehan. Membeli burung dari satu orang kemudian menjual lagi ke orang
lain. Atau dari pasar satu ke pasar yang lain. Pekerjaan pokok Dwijo adalah
sebagai guru SD. Tadinya memang ia nyambi
menanam lombok dan tomat. Namun setelah mendengar berita bahwa demo
guru-guru beberapa waktu yang lalu, yang menuntut peningkatan kesejahteraan
tidak membuahkan hasil, ditambah lagi dengan panen lombok dan tomatnya gagal,
Dwijo banting stir nyambi sebagai blantik burung ocehan.
” Pak… sudah
siang, nanti terlambat lagi,” peringatan dari suara yang tak asing lagi bagi
Dwijo mengusik keasyikannya.
” Ya, ya
sebentar !” sahut Dwijo.
” Nanti ditegur
kepala sekolah lagi karena terlambat.”
Dwijo segera
memberesi makanan burung. Setelah menempatkan prenjak-prenjaknya di longkang segera ia menuju meja makan
untuk sarapan.
Sepeda motor
Dwijo melaju membawanya ke tempat kerja. Sebuah SD yang jauh dari keramaian
kota. Di perjalanan Dwijo bertemu dengan teman seprofesinya di pasar burung.
” Hei, Pak Dwijo
! Sampeyan punya dagangan apa ?”
tanya Kodir temannya itu.
” Prenjak !”
jawab Dwijo singkat.
” Bagus nggak ?”
” Sip. Lincah
dan cerewet !” jawab Dwijo sembari mengacungkan jempol.
” Buat saya
saja, Pak.”
” Boleh. Kapan
kau ke rumahku ?”
” Nanti siang
sepulang dari pasar.”
” Oke, aku tunggu.”
Hati Dwijo
gembira. Angannya segera melayang pada lembaran seratus ribuan yang bakal
menjadi keuntungannya.
***
Sepulang
mengajar, Dwijo kembali asyik dengan prenjak-prenjaknya. Masih terbayang
lembaran seratus ribuan di kelopak matanya. Terdengar suara motor berhenti di
halaman rumah. Dwijo segera menggantung prenjak-prenjaknya di longkang. Bergegas dia ke halaman rumah.
” Mana Pak,
prenjaknya ?” tanya Kodir.
” Di longkang. Ayo masuk dan lihat sendiri,”
kata Dwijo mengajak.
Seperti
dikomando, prenjak-prenjak Dwijo ngoceh riuh dan nyaring. Dwijo tersenyum
bangga. Ocehan prenjak-prenjaknya seakan tahu isi hati Dwijo. Mereka ngoceh
seperti mengeja lembaran seratus ribuan.
” Minta berapa,
Pak ?”
” Seekornya lima
puluh ribu. Jadi bila kau ambil semua, seratus lima puluh ribu,” kata Dwijo
menawarkan.
” Mahal, Pak.”
” Lho, kamu
dengar sendiri, Dir. Cerewet dan nyaring begitu kok kamu minta murah…,” bela
Dwijo sambil tersenyum.
” Bagaimana
kalau tujuh puluh lima, Pak ?”
” Belum boleh,
Dir. Kalau kamu nggak mau, besok
Pahing aku bawa sendiri ke pasar. Bagaimana, Dir ?”
” Tidak berani,
Pak.”
Padahal
sebenarnya, bila Dwijo menjualnya tujuh puluh lima ribu pun sudah untung dua
puluh lima ribu rupiah. Tapi Dwijo tak memberikannya kepada Kodir. Dia yakin
prenjak-prenjak itu akan laku mahal besok Pahing. Pas pasaran di pasar burung
Sasana Kukila di lembah Tidar itu.
” Coba nanti
sore, Pak. Aku pikir-pikir dulu.”
” Baiklah Dir,
aku tunggu nanti sore.”
Kodir biasa
memanggil Dwijo dengan sebutan Pak Dwijo. Kodir menghormati betul, seperti juga
teman-teman yang lain di pasar burung. Mereka tahu kalau Dwijo adalah seorang
guru.
***
” Kenapa tidak sampeyan berikan saja, Pak ?” tanya
istri Dwijo sore harinya.
” Rugi, Bu.
Prenjak itu bagus, aku yakin di pasar bisa laku lima puluh ribu per ekornya,”
sanggah Dwijo.
” Kapan sampeyan akan membawanya ke pasar ?
Menunggu Minggu Pahing ?”
” Tidak, Bu.
Besok Selasa Pahing.”
” Mbolos lagi ?”
” Ya, tak
apa-apa, Bu. Kan nggak ada salahnya nututi rejeki ?”
” Betul, Pak.
Tapi kalau sering mbolos mengajar, apa kata teman-teman sampeyan di sekolah ? Apa sampeyan
tidak malu sering ditegur kepala sekolah ?”
” Apa kamu tidak
lihat, Bu ? Sepeda motor kita itu bannya sudah gundul. Aku harus segera
menggantinya. Kalau sampai mbledos,
wah malah bisa libur mengajar nanti ….” Bela Dwijo memberi alasan.
” Ah, terserah sampeyan saja, Pak. Sudah, aku berangkat
kumpulan PKK dulu,” kata istrinya pamitan dengan muka cemberut.
Dwijo
menggeleng-gelengkan kepalanya manakala istrinya melangkah meninggalkan pintu
rumahnya. Segera Dwijo menghampiri prenjak-prenjaknya yang masih saja cerewet
di longkang. Dengan hati berbunga-bunga diturunkannya sangkar-sangkar
prenjaknya ke tanah. Belum sempat memberi ulat pada prenjaknya, terdengar suara
sepeda motor berhenti di halaman rumahnya. Bergegas Dwijo berlari ke halaman, tangannya masih memegang
ulat Hongkong untuk prenjaknya.
Ternyata bukan
Kodir yang datang, melainkan Pak Kadus dengan undangan di tangannya.
” Pak Dwijo
diminta hadir, karena penting.”
” Soal apa, Pak
?”
” Rencana rehab
balai desa.”
” Banyak yang
diundang ?”
” Banyak juga.
Oh, ya sulingannya sudah laku ?”
” Sudah, Pak.
Sekarang ada prenjak, mau Pak ?”
” Ah, lain kali
saja. Saya permisi dulu Pak Dwijo,” kata Pak Kadus pamit.
Setelah Pak
Kadus meninggalkan halaman rumah, bergegas Dwijo kembali ke longkang lagi. Perasaannya was-was,
karena prenjak-prenjaknya berhenti ngoceh. Lama juga ia meninggalkan longkang.
Betapa kagetnya
Dwijo, ketika dilihatnya sangkar prenjak-prenjaknya jungkir balik dan pintunya
terbuka semua. Kosong melompong. Prenjak-prenjak itu telah raib dari sangkarnya
yang terbuat dari bambu itu. Bingung sekali Dwijo tiba-tiba. Dia memutar-mutar
keliling longkang. Matanya mengedar
ke atas, ke bawah, dan …..
” Celaka !”
teriaknya dalam hati.
Didapatinya
bulu-bulu prenjak yang bercampur darah, berserakan di sudut longkang.
”Kucing sial !
Awas kau !” umpat Dwijo mengancam kucing yang entah milik siapa dan entah lari
ke mana.
Pupus sudah
harapan Dwijo menerima lembaran seratus ribuan. Dwijo lemas duduk tertunduk. Di
matanya kini tak lagi terbayang lembaran seratus ribuan, namun terbayang roda
sepeda motornya yang gundul dan melindas batu jalanan. Dor !! *(NSK )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar